Oleh: Muhammad Supardi
Ia pernah menanam harap
di halaman hati yang bukan miliknya,
menyiramnya dengan kata-kata manis,
meneduh di bawah bayang janji
yang ia rajut sendiri.
Ia kira waktu akan memihak,
bahwa segala langkah yang ditempuh
akan bermuara pada satu nama
yang diam-diam ia dambakan.
Namun ada noda yang tak pernah benar-benar hilang,
jejak-jejak gelap yang disembunyikannya
di balik senyum dan kepura-puraan.
Dan ketika angin membawa kabar,
yang datang bukan pelukan,
melainkan jarak yang perlahan ditegakkan.
Kini namanya tak lagi disapa,
hadirnya tak lagi dicari,
seolah ia adalah hujan yang pernah ditunggu
lalu berubah menjadi badai yang harus dihindari.
Sejak itu,
hatinya seperti digantung
di antara penyesalan dan ketakutan.
Tak jatuh untuk menerima kenyataan,
tak pula sampai pada harapan
yang dahulu begitu ia yakini.
Malam menjadi lebih panjang baginya.
Setiap bunyi langkah terdengar seperti vonis,
setiap bisik terdengar seperti penghakiman.
Ia menoleh ke segala arah,
bukan karena mencari seseorang,
melainkan karena takut seseorang menemukan dirinya.
Rahasia yang selama ini dikuburnya rapat-rapat
kini terasa hidup dan bernapas.
Ia membayangkan hari
ketika semua yang disembunyikan
berdiri di hadapan banyak mata,
tanpa bisa lagi ia bantah.
Maka kegelisahan menjadi teman paling setia.
Ia duduk di sampingnya setiap malam,
mengingatkannya bahwa masa lalu
tak selalu dapat dikunci,
dan kesalahan tak selalu dapat disembunyikan.
Ia masih memandang ke arah yang sama,
ke arah sosok yang pernah didambakannya.
Namun kini bukan lagi cinta yang tumbuh,
melainkan rasa takut.
Takut bila semua terbuka.
Takut bila topengnya runtuh.
Takut bila akhirnya ia harus berhadapan
dengan dirinya sendiri.
Dan di sanalah ia,
menggantungkan sisa-sisa harap
pada tali yang kian rapuh,
sambil menunggu sesuatu yang tak pasti
menunggu pengampunan,
dan kenyataan yang datang menagih.


