web analytics
header

Celebration of Humanity (Perayaan Kemanusiaan)

Sebuah pesan indah yang tersisip dalam film The Greatest Showman

Oleh : Maul (Kucingpena)

Mind you , wouldn’t call it art.”

A circus, I like circus.”

But putting people of all shapes, sizes, colors. Putting them on stage together and presenting them as equals, another critic might have even called it a celebration of humanity.”

Sebuah kutipan dialog dari film musikal The Greatest Showman. (2017). Film yang mengisahkan perjalanan P.T. Barnum, seorang pengusaha yang membangun pertunjukan sirkus dengan merangkul orang-orang yang dianggap ‘aneh’ dan terbuang dari berbagai penjuru kota.

Banyak alasan mengapa film ini sungguh berkesan pada penontonnya. Mulai dari alurnya yang ringan namun memikat, adegan-adegan yang memorable, hingga deretan lagu yang terus terngiang di telinga. Namun, di antara semua itu, dialog di atas adalah yang paling membekas di hati saya.

Kalimat tersebut adalah kritik sekaligus pengakuan yang dilontarkan oleh James Gordon Bennett, seorang jurnalis kota, kepada Barnum. Tepat saat sirkusnya runtuh akibat kebakaran hebat. Dialog singkat ini, tanpa disadari, adalah pesan tersisip yang ingin dibisikkan oleh film ini langsung ke telinga penontonnya.

Orang – Orang aneh itu bukanlah orang aneh

Mungkin terdengar janggal jika mengatakan bahwa para talenta Barnum’s Circus bukanlah orang-orang aneh. Padahal, daya tarik utama yang dijual kepada pengunjung sirkus memang sebuah ‘Petunjukan Orang Aneh’. Namun, coba kita berpikir sejenak dan mengalihkan pandangan ke kehidupan hari ini. Kita akan menyadari bahwa talenta-talenta sirkus itu sebenarnya hidup dan nyata di sekitar kita.

Mungkin kita sudah tidak asing mendengar atau melihat orang-orang dengan kondisi fisik yang “unik”. Seorang pria bertubuh kerdil atau kita sebut Dwarfisme, wanita yang tumbuh janggut dan kumis atau disebut Hirsutisme, atau keunikan fisik lainnya.

Di era sekarang, hal tersebut mungkin tampak biasa dan umum kita lihat, gerakan untuk kaum inklusi sudah sering kita dengar. Tapi kalau kita berani menengok realita di lapangan, kecongkakan dunia masih saja telanjang di depan mata. Namun nyatanya, stigma itu belum mati. mereka masih dijauhi, dianggap tidak kompeten, langsung dipotong kesempatannya dengan dalih, “Mereka berkebutuhan khusus, memang tidak bisa, tidak ada harapan.”

Pernah kita membaca di internet tentang pengalaman seseorang langsung ditolak bekerja atau berkumpul hanya karena memiliki struktur wajah asimetris atau celah orofasional (Craniofacial Disorder), mereka yang lahir tanpa pergelangan tangan dan kaki (Tetra-Amelia), manusia dengan tinggi abnormal (Gigantism), hingga kondisi langka seperti pertumbuhan keratin menyerupai tanduk (Cutaneous Horn).

Semua keunikan itu nyatanya ada di dunia nyata, dan mereka tidak pernah meminta takdir itu. Wanita dengan kelainan pigmen (Albinism dan Vitiligo) kulit tak pernah meminta warna kulitnya begitu. Sepasang saudara yang tubuhnya menyatu (Kembar Siam) tak meminta dilahirkan berdempetan. Dan seorang dengan jari jemarinya berlebih pun (Polidaktili) tidak punya kuasa memilih kondisi lahirnya.

Mereka hanya ingin menjalani hidup dan mengejar impian. Namun, karena label yang terlanjur dicapkan oleh masyarakat, mereka dipandang rendah dan ruang geraknya dipersempit.Alih-alih diberi ruang bertumbuh bersama, mereka justru dikucilkan dan dilabeli sebagai aib keluarga. Seakan haknya dirampas untuk sekadar menjadi manusia.

Itulah orang-orang aneh yang menjadi talenta pada Barnum’s Circus. Orang yang ditolak tanpa diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa mereka dan di situ jugalah. PT Barnum turun dan memberikan kesempatan pada mereka.

Sirkus Itu adalah Rumah Bagi Mereka

“Shut Up Barnum, you just don’t get it… Our Mothers are ashamed of us… hid us our whole life. Then you pull us out of the shadow… And now you’re giving up on us too? Maybe you are a fraud… Maybe it was just about making a buck.. But you gave us a real family”

“And a circus. That was our home. We want our home back”

Dialog ini terlontar kepada Barnum yang saat itu sedang dalam depresi akibat runtuhnya karier dan impiannya. Dialog ini juga merupakan bukti bahwa P.T. Barnum entah sadar atau tidak, memberikan rumah kepada mereka.

Barnum berhasil menunjukkan kepada dunia bakat emas dari orang-orang ‘aneh’ itu. Siapa yang mengira seorang pria kerdil bisa berlagak bak jenderal perang yang gagah? SIapa yang menyangka wanita berjanggut memiliki suara emas yang menggetarkan jiwa? Dan siapa yang menduga sepasang kembar siam mampu melakukan acrobat yang memukau?

Di dunia nyata, tantangan terbesar mereka harus lewati bukan hanya keterbatasan fisik, tapi bagaimana menjaga rasa percaya diri mereka dari perlakuan orang-orang sekitarnya. Bagaimana mereka harus terus bergerak meski keberanian mereka terus diperkecil.  Sudah banyak sekali orang yang memperlihatkan bakat emas mereka meski mereka memiliki keterbatasan. Mereka berhasil mematahkan stigma negative yang masyarakat berikan.

The Greatest Showman bukan hanya film musikal yang menghibur semata. Film ini adalah sebuah surat cinta tersembunyi untuk mengingatkan kita agar tidak menilai orang dengan cepat hanya dengan melihat mereka. Kita harus tetap terbuka dan memberi mereka kesempatan. Siapa yang tahu ternyata karena kesempatan yang kita berikan itu bisa merubah mereka jauh lebih baik. Juga kita sebagai manusia, harus  terus memanusiakan manusia, selalu bergerak dan berjuang jika ada penindasan yang diberikan kepada mereka. Sesungguhnya, Esensi dari tindakan itulah yang menjadi wujud nyata dari sebuah “Perayaan kemanusiaan”.

Related posts:

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini