Oleh: Juwa
Dewasa ini, kita tidak lagi selalu menemukan ruang-ruang evaluasi—baik caturwulan maupun triwulan—sebagai tempat untuk memperbaiki apa yang telah berjalan. Alih-alih menjadi ruang refleksi, forum tersebut terkadang berubah menjadi panggung unjuk gigi antarperiode, bahkan tidak jarang menjelma menjadi ruang perpeloncoan yang dibungkus atas nama evaluasi.
Padahal, evaluasi pada hakikatnya bukanlah ruang untuk mencari siapa yang paling salah atau siapa yang paling benar. Evaluasi adalah proses sistematis untuk menilai, mengukur, dan menganalisis suatu kegiatan, program, atau hasil guna mengetahui tingkat keberhasilan sekaligus menentukan perbaikan yang diperlukan. Dengan demikian, evaluasi semestinya membawa organisasi untuk melihat ke belakang dengan kepala dingin, lalu bergerak ke depan dengan perbaikan yang nyata.
Sayangnya, dalam ruang-ruang evaluasi hari ini, entah ke mana perginya analisis itu. Mungkin ia masih ada, tetapi berapa besar porsinya jika dibandingkan dengan emosi yang justru meledak-ledak?
Yang hadir terkadang bukan lagi pembahasan mengenai apa yang dapat diperbaiki, melainkan saling menyalahkan. Menyalahkan seolah-olah pihak lain tidak pernah bekerja. Menyalahkan seolah-olah diri sendiri telah melakukan semuanya dengan lebih baik. Bahkan, menyalahkan seolah-olah jarum jam dapat diputar kembali dan kesalahan yang telah terjadi dapat dihapus begitu saja.
Pada titik itu, evaluasi kehilangan arah.
Penyesalan yang berlarut-larut tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Menumpahkan emosi dengan nada yang menggelegar juga tidak serta-merta membuat sebuah organisasi menjadi lebih baik. Sebab, tujuan evaluasi bukanlah membuat seseorang merasa dipermalukan, atau bahkan bersalah atas sesuatu yang sudah berlalu. Tujuannya adalah menemukan apa yang keliru, memahami mengapa hal itu terjadi, dan memastikan kesalahan yang sama tidak kembali terulang.
Kita perlu membedakan antara ketegasan dan dominasi. Kritik memang diperlukan. Kesalahan memang harus dibicarakan. Bahkan, pertanggungjawaban adalah bagian penting dalam kehidupan organisasi. Namun, semuanya kehilangan makna ketika disampaikan dengan cara yang menjadikan forum sebagai ruang untuk menekan, mempermalukan, atau melampiaskan emosi.
Jika evaluasi hanya berakhir pada siapa yang paling keras berbicara, siapa yang paling banyak menyalahkan, atau siapa yang paling berhasil mendominasi forum, maka yang sedang kita lakukan bukanlah evaluasi. Kita hanya sedang mengulang konflik dengan nama yang lebih terhormat.
Evaluasi seharusnya tidak membuat organisasi berjalan di tempat. Ia semestinya menjadi jembatan antara apa yang telah terjadi dan apa yang harus diperbaiki setelahnya. Kesalahan masa lalu tidak perlu disangkal, tetapi juga tidak perlu terus-menerus dijadikan senjata untuk menyerang mereka yang pernah menjalankannya.
Sebab pada akhirnya, organisasi tidak membutuhkan ruang untuk mencari pemenang dalam sebuah kesalahan. Organisasi membutuhkan ruang untuk belajar darinya.
Maka, jika ruang evaluasi telah kehilangan esensinya dan berubah menjadi ruang dominasi, mungkin memang sudah waktunya kita menghentikan saja ruang evaluasi itu—bukan untuk berhenti mengevaluasi, melainkan untuk mengembalikan evaluasi kepada makna yang sebenarnya.
Karena sekali lagi, evaluasi bukan ruang dominasi.


