web analytics
header

The Merchant of Venice: “Do We Not Bleed?”

Oleh : Juwa

“If you prick us, do we not bleed? If you tickle us, do we not laugh? If you poison us, do we not die? And, if you wrong us, shall we not revenge?”

Kutipan tersebut menjadi salah satu kalimat puitis yang memahami The Pianist (2002) karya Roman Polanski. Diambil dari The Merchant of Venice karya William Shakespeare dan digunakan kembali dalam film, kutipan itu mempertanyakan sesuatu yang mendasar yakni ketika seseorang diperlakukan berbeda, disakiti, bahkan dirampas kemanusiaannya, apakah ia masih akan dipandang sebagai manusia yang memiliki perasaan, rasa sakit, dan hak untuk hidup? Pertanyaan ini yang juga menjadi inti dari kisah Władysław Szpilman, seorang pianis Yahudi-Polandia yang menjadi korban kekejaman Nazi selama Perang Dunia II.

Pada awal film, Szpilman digambarkan sebagai seorang pianis yang menjalani kehidupan sederhana bersama keluarganya di Warsawa. Ia bekerja, bermusik, dan menikmati kehidupan yang relatif tenang. Namun, situasi tersebut berubah drastis setelah Nazi menduduki Polandia. Propaganda mengenai superioritas ras yang digaungkan Hitler secara perlahan membentuk pandangan bahwa kelompok Yahudi merupakan kelompok yang lebih rendah dan layak diperlakukan berbeda. Identitas Yahudi yang melekat pada Szpilman dan keluarganya kemudian menjadi alasan bagi mereka untuk kehilangan hak-hak dasarnya. Mereka dikucilkan, kebebasannya dibatasi, dipindahkan secara paksa, mengalami kekerasan, hingga pada akhirnya dihadapkan pada ancaman pembunuhan.

 “If you prick us, do we not bleed?” kutipan retoris bernuansa kemanusiaan ini lagi-lagi memperlihatkan bagaimana rezim nazi begitu kejam mengesampingkan kemanusiaan kaum Yahudi. Orang-orang Yahudi tidak diperlakukan sebagai individu dengan kehidupan dan martabat yang layak. Melalui propaganda antisemitisme dan doktrin superioritas ras, Nazi membangun stigma bahwa keberadaan orang Yahudi merupakan ancaman bagi bangsa Jerman. Pandangan tersebut kemudian menjadi pembenaran bagi berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi.

Kondisi “tidak mati” menunjukkan bahwa penderitaan akibat perang tidak berhenti hanya karena seseorang berhasil lolos dari kematian. Szpilman memang selamat, tetapi ia dipaksa menjalani kehidupan yang jauh dari kata manusiawi. Ia hidup dalam kelaparan, ketakutan, kesepian, dan ketidakpastian. Setiap langkah di luar persembunyian dapat berarti kematian. Penonton diajak menahan napas seiring ketakutan juga menjalar pada nadi Szpilman. Bahkan Ketika serangan tidak terjadi, pada situasi tersebut rasa was-was tidak kunjung mereda.

Trauma menjadi salah satu aspek yang paling kuat dalam perjalanan karakter Szpilman. Perubahan fisiknya yang semakin kurus dan lemah, disertai tatapan yang kian kosong, mencerminkan beban psikologis yang harus ia tanggung selama hidup dalam pelarian. Kehidupannya dalam persembunyian meninggalkan dampak mendalam pada kondisi psikologisnya dan memengaruhi cara ia menjalani kehidupan. Karena itu, keselamatan Szpilman di akhir film tidak sepenuhnya dapat dimaknai sebagai akhir bahagia. Ia memang berhasil lolos dari kematian, tetapi pengalaman kekejaman yang disaksikannya akan terus melekat dalam ingatannya. Ia harus hidup dengan kenangan tentang keluarga dan orang-orang terdekat yang telah meregang  nyawa akibat kekejaman rezim Nazi, sehingga berakhirnya perang tidak serta-merta mengakhiri penderitaan yang ia rasakan.

“And, if you wrong us, shall we not revenge?” Menjadi penggalan yang menggambarkan kemungkinan pembalasan dendam yang tidak nihil setelah terus-menerus mengalami perlakuan tidak adil. Namun, The Pianist tidak menampilkan Szpilman sebagai tokoh yang melakukan pembalasan. Pada pertengahan hingga akhir, angle film justru berfokus pada kebaikan-kebaikan kecil yang ia terima di tengah perjalanannya, meski tetap tidak lepas dari berbagai bentuk kekejaman yang mengharuskannya luntang-lantung menyambung hidup. Martabatnya seolah digambarkan dalam bentuk bagaimana ia mempertahankan hidupnya sebagai bagian dari bentuk perlawanan.

Perang dalam The Pianist tidak menuliskan heroisme medan perang, ia menggambarkan pandangan realistis bahwa banyak hal turut terampas seiring berjalannya perang termasuk kemanusiaan yang dibayar mahal. Ketika perang diceritakan melalui sudut pandang seorang korban, kemenangan tidak menjadi arti yang cukup besar untuk membayar harga kehilangannya.

Adegan ketika Szpilman kembali memainkan piano menjadi salah satu simbol paling dalam film the pianist. Musik yang dahulu menjadi bagian normal dari kehidupannya kini muncul di tengah kehancuran dan pelariannya. Piano menjadi pengingat bahwa sebelum perang menjadikannya seorang buronan, ia adalah seorang manusia yang memiliki kehidupan, pekerjaan, keluarga, dan impian. Musik tersebut seakan mengembalikan identitas yang berusaha dirampas oleh perang.

“If you wrong us, shall we not revenge?” pada akhirnya bukan hanya diartikan sependek “pembalasan”. Ia adalah pengingat bahwa setiap manusia, siapa pun dirinya dan apa pun identitasnya, memiliki rasa sakit dan martabat yang sama. Ketika hal tersebut dilupakan, perang akhirnya menjadi media penghancuran terhadap kemanusiaan.

Related posts:

DUNIA YANG DI MANA 2 + 2 = 5

MEMAHAMI WORLDBUILDING DALAM NOVEL GEORGE ORWELL “1984” Oleh: Maulana Dafa Suwandi “DUA TAMBAH DUA SAMA DENGAN LIMA”. Suatu pernyataan yang

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini