Oleh: Fathir Triananda Junas
Wahai gadis bulan maret,
Sungguh banyak yang membuatku teringat akan dirimu.
Tenggelamnya matahari, dinginnya pasang laut.
Entah mengapa benang merahnya selalu ada pada pribadimu.
Telak kalahku akan memoria ini, oh, perempuan diawal maret.
Jalan yang kutempuh tak pernah sama tanpa dirimu.
Kuharapkan setapak ini penuh wangi almond parfummu.
Nyatanya cuma asap motor yang memenuhi jalan berpulangku.
Wahai jelita di dalam bulan maret, apakah kau ingat akan pantai malam itu?
Sungguh aku telah mempelajari pasang surutnya semenjak kau jauh.
Setiap buai angin telah membuatku teringat akan indahnya lukis wajahmu.
Membuat aku sesak diantara ikan yang memakanku hidup-hidup.
Wahai kasih di bulan maret,
Tak ada yang lain yang ingin kusampaikan.
Selain banyaknya namamu dalam sanubariku.


