Oleh: Fathir Trianandana Junas
Wahai engkau perempuan di awal Maret,
Maaf, hadiah tahun ini tak sama seperti yang lalu.
Aku tengah mengembara di jalan yang ingin kau tempuh,
Sangat sayang, di pengembaraan ini tak ada dirimu.
Wahai jelita di dalam bulan Maret,
apakah kau ingat akan pantai malam itu?
Sungguh, aku telah mempelajari pasang surutnya semenjak kau jauh.
Setiap buai angin telah membuatku teringat akanmu.
Wahai wanita yang berada di awal Maret,
Kuingin memberitahumu akan semua keluh seperti di masa lalu.
Namun, di puisi ini hanya satu yang kuingin kau tahu,
bahwa dalam doaku selalu kupanjatkan nama panjangmu.
Wahai gadis bulan Maret,
tak ada yang lain yang ingin kusampaikan,
selain banyaknya namamu dalam sanubariku.


