web analytics
header

Hikayat Seorang Baginda dari Negeri yang Baik-baik Saja

Oleh: Maulana D. Suwandi

Alkisah berdiri sebuah negeri,

begitu makmur, begitu damai.

Di singgasana duduk seorang baginda.

Perutnya bundar, pipinya merah merona.

Ia memandang dari beranda istana.

Lalu berkata,

“Lihatlah, negeriku baik baik saja”

Baginda teramat dermawan.

Patik-patiknya dibuat berkecukupan,

meja mereka tak pernah habis hidangan.

Karena mereka menjaga negeri;

Bukan hanya kantong sendiri;

Bila tersandung perkara,

tak usah cemas.

Timbangan istana tahu siapa tuannya.

Betapa harmonisnya Patik patik negeri.

Saling menjaga, saling  membela diri.

Alangkah cerdasnya baginda kita,

sekali bertitah, seluruh negeri bergema.

“Harga beras terus naik”

“Ya coba tanam Sendiri!”

“Kami sulit cari kerja”

 “Lebih giatlah bekerja!”

“Jalan kami rusak, penghasilan kami tak cukup”

“Yah, syukurilah, Negeri sudah memberi”

Betapa arifnya Baginda kita,

yang tak paham hanya rakyatnya.

Baginda dan patihnya sangatlah jenius.

Sampai rakyatnya tak perlu berilmu.

Ilmu bisa menunggu,

yang penting rakyat kenyang dulu.

Oh, lihatlah di halaman istana,

rakyat bersimpuh, menangis tersedu-sedu.

Barangkali sudah terlalu bahagia,

sampai ada yang tersungkur mencium tanah.

Agaknya,  jamuan istana begitu nikmat bagi mereka.

Aduh aduh,

sungguh buta rakyat baginda ini.

Sukanya mengeluh tiada henti,

“Tanah kami digurus habis”

“Ya, itu tanah milik negeri”

“Alam kami hancur tak tersisa”

“Pohon bisa ditanam lagi”

“Nyanyian leluhur kami telah punah”

“Masih ada yang bisa dikenang”

“Ini semua tidak adil”

“Bukannya sudah diberi uang ganti?”

Negeri kita ini teramat kuat.

Hanya rakyatnya yang lemah,

terlalu mudah untuk dihasuti.

Kalau memang sudah tak betah di negeri ini,

pergilah kalian ke luar negeri.

Related posts:

Aku Anak Pertama, “Perempuan”

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku anak pertama,“perempuan.” Lahir sebagai anak yang pertama kali mengenalkan ayah dan ibu pada arti menjadi orang

The Cure

Oleh: Khalilah Azalia Mumtazah Kuakui, aku datang kepadamu sebagai pecahan kaca.Dengan kepala yang dipenuhi ragu dan hati yang terbiasa luka,aku

Line Without a Hook

Oleh: Tamara Syabani Ahmad Barangkali kehilangan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang terputus. Kadang, ia menyerupai dua garis yang setelah

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini