Oleh: Juwa
Ia lihai melahap hingga tak sempat bernafas, seolah makan ia sambil berlari. Terdengar seperti gurauan, sayang sekali, melakukannya sama sekali tidak mengundang tawa. Ia menyiksa, entah sesak atau mual, semuanya berusaha saling mendahului. Kerongkongan atau tenggorokan, yang mana saja merupakan jagoan dalam hal siksa, sakit.
Ketika tiap-tiap situasi menodong tindakan seolah segalanya salah, menurutmu yang mana mesti menjadi benar?
Ribut sekali mereka saling lempar pendapat, “Sebaiknya jangan makan!”
“Sebaiknya jangan berlari!!”
“Sebaiknya jangan kau berambisi!” atau bahkan,
“Sebaiknya jangan menghela napas!”
Seolah mereka lah kebenaran. Siapa kau? Tuhan? remeh sekali wujudmu ingin disamakan dengan-Nya
Diberi kau sudut pandang, namun benar-benar hanya menatap dari sudut kecil, teramat kecil. Tidak sudi mereka melangkah guna melihat sudut-sudut lain. Sayang sekali kan? lagi-lagi kita hanyalah seorang hakim yang tidak sudi melihat dengan jelas. Yang mulia, Maha Benar.


