web analytics
header

Maha Benar

Oleh: Juwa

Ia lihai melahap hingga tak sempat bernafas, seolah makan ia sambil berlari. Terdengar seperti gurauan, sayang sekali, melakukannya sama sekali tidak mengundang tawa. Ia menyiksa, entah sesak atau mual, semuanya berusaha saling mendahului. Kerongkongan atau tenggorokan, yang mana saja merupakan jagoan dalam hal siksa, sakit.

Ketika tiap-tiap situasi menodong tindakan seolah segalanya salah, menurutmu yang mana mesti menjadi benar?

Ribut sekali mereka saling lempar pendapat, “Sebaiknya jangan makan!”
“Sebaiknya jangan berlari!!”
“Sebaiknya jangan kau berambisi!” atau bahkan,
“Sebaiknya jangan menghela napas!”
Seolah mereka lah kebenaran. Siapa kau? Tuhan? remeh sekali wujudmu ingin disamakan dengan-Nya

Diberi kau sudut pandang, namun benar-benar hanya menatap dari sudut kecil, teramat kecil. Tidak sudi mereka melangkah guna melihat sudut-sudut lain. Sayang sekali kan? lagi-lagi kita hanyalah seorang hakim yang tidak sudi melihat dengan jelas. Yang mulia, Maha Benar.

Related posts:

Line Without a Hook

Oleh: Tamara Syabani Ahmad Barangkali kehilangan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang terputus. Kadang, ia menyerupai dua garis yang setelah

Belenggu Ketakutan

Oleh: Muhammad Supardi Aku pernah bertanya kepada malam, akankah langkah ini sampai pada tujuan, atau harapan hanya akan tinggal seperti

Sang Pemenang Meraih Mimpinya

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku pernah begitu percaya pada mimpi,mengejarnya dengan seluruh keberanian,hingga lupa bahwa hidup tak selalu membawaku pada tujuan

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini