Oleh : Witry Nolanty
Kala itu, jemari tangan dan tapak kaki riang terayun
Dengan lembut angin menyapa
Membidik ke mana riuhnya kelana, ke mana singgahnya pertanda
Barangkali, kami salah baca pertanda.
Di antara ribuan tahun bertapak, rimba menggenggamku erat
Lihai jemari anak-anakku berkisar menghinggapi ranting, berayun sapa
Ku tuntun mereka berempati
Walau kalah dengan yang berambisi.
Jauh sebelum kalian merangkak, kaki ku lebih dulu bertapak
Kalian hidangkan panggangan di rimbaku
Tersisakan abu dan reruntuhan anak-anakku tak berdaya
Daksaku rapuh, terisak tangis merampas belantara.
Berakal katanya, menertawakan kaku tubuhku yang tersisa kaki untuk berlari
Dengan angkuh kalian sisakan nelangsa
Sumber nafas yang kalian hanguskan untuk keserakahan semata
Seolah dahaga tak berkesudahan.
‘Kan ku kecam tangan yang memanggil bara
Sebab kami bukan sekadar satwa dalam berita yang kehilangan rumah
Dan kalian sebut kami pengganggu
Kami diberi duka.
Kami salah baca pertanda
Mungkin di lain rumah,
kita tak perlu berlari untuk menepi, karena tamak yang tak jua reda.


