Oleh: Naufal Athalla Jabal
Kirana temui aku dengan wangi mu yang dapat ku cumbu.
Saat emosi pun meluap pada ribuan maaf yang membuat hati terluka hingga atmosfer dari tempat ini pun perlahan berubah seiring diri ku berjalan menjauh pergi dari sini.
Suara dari reruntuhan kapal yang runtuh kini menjadi saksi bisu kesengsaraan dan kepedihan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Pedih yang tidak akan pernah bisa membawa ku pulang meski tujuh samudera telah kuarungi sepenuhnya dengan berbagai tipu daya akan nikmatnya duniawi.
Hanya kata yang lugas yang kini tercipta ketika panah dari Kirana melesat menjauh dari mana ia seharusnya.
Ku telah membuat Dewi Kirana marah, ku telah membuatnya kecewa, ku telah membuatnya resah, ku telah jauh dari cumbu rayunya.
Ku dambakan kehadirannya bak Eros yang kehilangan sayapnya, terjatuh di antara puing-puing harapan yang tak lagi memiliki arah.
bak Apollo yang kehilangan mataharinya,
bak Artemis yang kehilangan bulan
di tengah hutan yang tak lagi mengenal cahaya.
Ku ingin memeluknya seperti laut memeluk pantai,
meski keduanya tahu bahwa pertemuan itu selalu menyisakan luka.
Kini aku hanya seorang manusia
yang berdiri di hadapan Olympus,
tanpa mahkota, tanpa pedang,
tanpa keberanian untuk meminta belas kasihan Dewi.
Hanya wangi terurai yang dapat ku cumbu.


