web analytics
header

Line Without a Hook


Oleh: Tamara Syabani Ahmad

Barangkali kehilangan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang terputus. Kadang, ia menyerupai dua garis yang setelah lama menempuh jalan berdampingan, perlahan melepaskan genggaman arah dan memilih cakrawalanya masing-masing. Tak terdengar bunyi ketika jarak mulai menetas di antara keduanya. Tak ada pertanda yang cukup terang untuk menunjukkan kapan sebuah garis pertama kali menjauh dari garis lainnya. Mula-mula setipis bayang-bayang di atas kertas, lalu melebar perlahan, hingga garis yang dahulu selalu berada di sisi menyusut menjadi titik kecil di kejauhan, berpendar samar di batas pandang.

Segalanya bermula dari dua titik yang belum saling mengenal, dipertemukan oleh sesuatu yang bahkan belum sempat menemukan nama. Dari sana, keduanya belajar menari di halaman yang sama, berjalan sejajar seolah arah yang berbeda dapat disatukan oleh langkah yang cukup dekat. Namun, setiap garis membawa kompasnya sendiri. Hingga suatu hari, persimpangan datang dan keduanya bergerak menuju cakrawala yang berbeda. Bukan karena salah satunya keliru, melainkan karena masing-masing telah membawa kompas dan cakrawalanya sendiri.

Yang paling sukar diterima ialah kenyataan bahwa dua garis dapat saling mendekat, bahkan berjalan begitu rapat di bawah langit yang sama, tanpa pernah benar-benar ditakdirkan berbagi satu titik akhir. Perasaan mungkin mampu memendekkan sunyi dan membuat perjalanan terasa lebih ringan, tetapi tidak selalu sanggup mengubah tujuan yang telah ditulis waktu. Ada jarak yang tidak lahir dari kurangnya rasa, melainkan dari arah yang memang berbicara dalam bahasa berbeda.

Kehilangan kerap menyalakan lentera yang justru diarahkan ke dalam diri sendiri. Menelusuri kembali setiap lekuk perjalanan, menyentuh satu demi satu simpul arah dengan jemari ingatan, seolah di sana tersembunyi sebuah kesalahan kecil yang dapat mengembalikan dua garis pada kesejajaran semula. Lalu percaya bahwa rasa yang cukup dalam semestinya mampu menyeberangi segala jurang, bahwa keteguhan yang cukup kuat sanggup mengusap tepi-tepi sunyi, hingga jarak luluh menjadi embun dan tak lagi mengenali namanya sendiri. Namun, tidak semua ruang diciptakan untuk dirapatkan. Ada batas yang hadir bukan sebagai musuh, melainkan sebagai cara sunyi bagi dua arah untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Di sanalah penghapus semestinya menundukkan diri dalam diam. Sebab, tidak setiap jejak diciptakan untuk dilenyapkan. Garis yang pernah bersua akan selalu menyimpan gema pertemuannya, seperti dua sungai yang pernah memantulkan langit yang sama sebelum membawa pantulan itu menuju muara yang berbeda. Tak satu pun menjadi lebih kecil hanya karena tak lagi berjalan bersama. Ada pertemuan yang tidak ditakdirkan menjadi satu garis panjang, tetapi meninggalkan bekas yang lebih dalam daripada tinta— ejak yang berdiam di antara serat ingatan, tempat waktu pun tak sepenuhnya mampu menghapusnya.

Rindu pun, pada akhirnya, belajar menanggalkan wajah lamanya. Mula-mula ia datang sebagai bara yang ingin membakar jarak, sebagai panggilan yang hendak menarik pulang langkah-langkah yang telah menjauh, sebagai kehendak untuk menundukkan dua cakrawala agar kembali menghadap pada satu arah. Namun waktu, dengan jemarinya yang sabar, perlahan mengubah nyalanya menjadi cahaya yang lebih tenam—meminta kesediaan untuk membiarkan jarak tetap menjadi jarak, tanpa mengutuknya sebagai nama lain dari kehilangan. Titik tempat dua garis bersinggungan tak perlu dihapus dari peta kenangan, tetapi juga tak harus dikejar agar kembali berulang. Biarlah ia tinggal sebagai seberkas cahaya di ufuk masa silam—tanda kecil bahwa pernah ada musim ketika dua arah yang berbeda berjalan di bawah langit yang sama. Sebab, adakalanya dua garis hanya tiba di sebuah persimpangan—saling menatap dalam hening—lalu memahami bahwa jalan setelahnya memanggil mereka menuju cakrawala yang berbeda.

Pada akhirnya, kalam tak lagi diangkat untuk mengulang garis yang telah berpisah. Ia kembali terangkat dari jejak lama, lalu diletakkan di atas ruang putih yang belum bernama, tempat perjalanan baru menanti untuk diguratkan. Barangkali garis itu akan berkelok, menyentuh garis lain dalam persinggahan yang singkat, atau mengembara seorang diri melewati halaman-halaman sunyi yang belum mengenal jejak. Tak ada kepastian yang perlu dipaksa menjelma jawaban. Sebab, harga sebuah garis bukan terletak pada berapa lama ia berjalan berdampingan dengan garis lain, melainkan pada keberaniannya untuk terus mengalir—menyusuri lengkungnya sendiri—setelah persimpangan perlahan ditelan senyap.

Barangkali kehilangan bukanlah akhir dari sebuah gambar. Ia hanya jeda sunyi—titik ketika sebuah garis berhenti menyalin arah garis lain, lalu perlahan menemukan lengkungnya sendiri. Dengan kompas yang berdenyut di dalam dada, ia membawa jejak langkah yang pernah dilalui, menyimpan bayang-bayang pertemuan di sepanjang guratannya, lalu berjalan menuju cakrawala yang sejak semula diam-diam menunggunya.

Related posts:

Belenggu Ketakutan

Oleh: Muhammad Supardi Aku pernah bertanya kepada malam, akankah langkah ini sampai pada tujuan, atau harapan hanya akan tinggal seperti

Sang Pemenang Meraih Mimpinya

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku pernah begitu percaya pada mimpi,mengejarnya dengan seluruh keberanian,hingga lupa bahwa hidup tak selalu membawaku pada tujuan

Bukan Aku yang Dipilih

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku sungguh mencintaimu dengan cara yang mungkin tak pernah kau minta.Menyimpan namamu,di antara doa-doa yang tak pernah

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini