web analytics
header

“Penggiring Opini”, They Said

Oleh: Juwa

Begitu mudah sebuah tulisan ditempatkan sebagai upaya menggiring opini ketika isinya mempertanyakan sesuatu yang sedang terjadi di lingkungan kampus. Ketika pers mahasiswa mengangkat persoalan, meminta penjelasan, menghadirkan suara mahasiswa, atau memberikan ruang bagi pihak-pihak yang terdampak untuk berbicara, label tersebut dapat muncul dengan begitu cepat.

Padahal, pers mahasiswa memang memiliki posisi untuk mengawasi kehidupan kampus melalui kerja jurnalistik. Ia hadir untuk mencari tahu apa yang terjadi, menguji informasi, menghadirkan berbagai perspektif, serta menyampaikan persoalan yang mungkin belum memperoleh ruang yang cukup untuk dibicarakan.

Ada aspirasi mahasiswa yang telah disampaikan tetapi belum mendapatkan tanggapan. Ada pula persoalan yang hanya beredar dari satu percakapan ke percakapan lain tanpa pernah sampai pada ruang yang lebih terbuka. Pada keadaan seperti ini, pers mahasiswa dapat menjadi jembatan. Aspirasi dikumpulkan, informasi ditelusuri, pihak-pihak terkait diberi ruang untuk memberikan keterangan, lalu persoalan tersebut disampaikan kepada publik kampus.

Di sinilah fungsi kontrol sosial bekerja. Kontrol sosial tidak selalu hadir dalam bentuk kritik secara langsung. Ia dapat dimulai dari keberanian untuk bertanya dan kesediaan untuk memeriksa kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Ketika ada kebijakan yang berdampak pada mahasiswa, ketika terdapat perlakuan yang dipertanyakan, atau ketika suara mahasiswa tidak memperoleh ruang yang layak, pers mahasiswa memiliki alasan untuk mengangkatnya.

Ruang diskusi pun menjadi bagian penting dari keberadaan pers mahasiswa. Sebuah tulisan dapat mempertemukan pandangan yang berbeda, menghadirkan pengalaman yang sebelumnya tidak diketahui, dan membuat persoalan yang semula hanya dibicarakan oleh beberapa orang menjadi bahan pembicaraan bersama. Perbedaan pendapat dalam ruang tersebut merupakan bagian dari dinamika kehidupan akademik.

Tentu, kebebasan pers mahasiswa tetap berjalan bersama tanggung jawab jurnalistik. Informasi perlu diverifikasi, narasumber perlu diberi ruang, dan tulisan perlu disusun dengan memperhatikan fakta. Kritik pun perlu memiliki dasar. Namun, tanggung jawab tersebut seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat kerja pers mahasiswa, bukan alasan untuk membatasi ruangnya dalam menyampaikan persoalan.

Sebab ketika setiap pertanyaan dianggap sebagai serangan, setiap kritik dibaca sebagai keberpihakan, dan setiap aspirasi yang diangkat dicurigai sebagai upaya menggiring opini, ruang diskusi akan semakin sempit. Pada akhirnya, mahasiswa kehilangan tempat untuk membicarakan persoalan yang sebenarnya dekat dengan kehidupan mereka sendiri.

Pers mahasiswa tidak bertugas menentukan apa yang harus dipercaya oleh pembacanya. Pers mahasiswa menyediakan informasi, menghadirkan suara, dan membuka ruang agar publik kampus dapat menilai persoalan dengan pengetahuannya sendiri.

Maka, ketika sebuah tulisan membuat kita merasa terusik, mungkin yang perlu dilakukan adalah membaca, memeriksa, lalu berdiskusi. Sebab kampus yang sehat semestinya mampu menerima keberadaan pertanyaan, termasuk pertanyaan yang tidak selalu nyaman untuk didengar.

“Penggiring opini, they said.”

Kalau menyampaikan aspirasi dianggap menggiring opini, kalau kritik dianggap sebagai keberpihakan, dan kalau kerja jurnalistik dipandang sebagai gangguan, lalu ruang seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun untuk pers mahasiswa?

Benarkah kita tidak anti-pers?

Related posts:

Is It Better to Speak or to Die?

Oleh: Juwa Call Me by Your Name merupakan film yang menggambarkan perasaan, kedekatan, dan keraguan melalui hubungan Elio dan Oliver.

Apa Guna PBB?

Oleh: Muh Abi Dzarr Al Ghiffariy Menarik melihat perkembangan geopolitik dunia beberapa tahun terakhir. Perang Rusia-Ukraina belum selesai. Asia Barat

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini