web analytics
header

Aku Anak Pertama, “Perempuan”

Oleh: Rodiah Nurhafizah

Aku anak pertama,
“perempuan.”

Lahir sebagai anak yang pertama kali mengenalkan ayah dan ibu pada arti menjadi orang tua.

Sejak kecil,
aku tumbuh dalam banyak doa.
Ayah yang selalu percaya bahwa aku mampu,
ibu yang selalu memastikan
aku tidak pernah merasa sendiri.

Aku tidak kekurangan kasih sayang.
Tidak pernah kekurangan tempat untuk pulang.
Sebab sejauh apa pun aku pergi,
aku tahu ada rumah
yang selalu menungguku kembali.

Tapi menjadi anak pertama ternyata bukan hanya tentang menjadi yang pertama dibanggakan, atau yang pertama diharapkan.

Ada banyak hal yang harus kupelajari sendiri.

Bagaimana memilih jalan.
Bagaimana menentukan hidup.
Bagaimana menerima kegagalan.
Bagaimana tetap melangkah ketika aku sendiri belum tahu ke mana harus pergi.

Dan menjadi anak pertama berarti aku juga belajar bahwa ada adik-adik yang diam-diam melihat langkahku.

Mungkin mereka tidak selalu berkata,
tetapi aku tahu,
ada bagian dari diriku yang akan mereka jadikan contoh.

Maka aku ingin tumbuh bukan sebagai kakak yang selalu benar,
tetapi sebagai kakak yang berani mencoba,
berani jatuh,
dan berani bangkit kembali.

Aku ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa jika suatu hari mereka belum tahu harus ke mana.

Sebab kakaknya pun pernah berada di sana.

Aku juga masih meraba-raba.

Dulu, aku adalah anak perempuan yang menggenggam tangan ayah ketika belajar berjalan.

Kini, aku mulai berjalan sendiri.

Bukan karena ayah berhenti menjagaku,
bukan karena ibu berhenti mendoakanku,
tetapi karena hidup perlahan mengajarkanku,
bahwa ada jalan yang memang harus kutempuh dengan kakiku sendiri.

Kadang aku salah arah.
Kadang ingin kembali.
Kadang melihat orang lain seolah sudah menemukan tujuannya,
sementara aku masih bertanya:

“Sebetulnya, aku ingin menjadi siapa?”

Namun aku terus berjalan.

Sebab di belakang setiap langkahku ada doa ayah dan ibu.

Dan di belakangku juga,
ada adik-adik,
yang ingin kulihat tumbuh tanpa harus takut menjadi dirinya sendiri.

Aku tidak ingin mereka melihatku sebagai seseorang yang sempurna.

Aku hanya ingin mereka tahu,
bahwa meskipun kakaknya masih mencari jalan,
kakaknya akan selalu berusaha menjadi tempat mereka pulang.

Mungkin itulah arti menjadi anak pertama:
belajar menemukan jalan sendiri,
sambil sesekali menjadi petunjuk bagi mereka yang berjalan di belakang kita.

Aku anak pertama,
“perempuan.”

Aku tidak selalu kuat.
Aku pernah takut,
pernah bingung,
pernah tidak tahu harus bagaimana.

Tapi aku sedang belajar.

Belajar menjadi perempuan
yang mengenal dirinya sendiri,
menjadi kebanggaan ayah dan ibu,
dan menjadi seseorang yang kelak bisa berkata kepada adik-adiknya:

“Kalau suatu hari kalian kehilangan arah, tidak apa-apa. Kita cari jalannya bersama.”

Dan suatu hari nanti,
ketika aku akhirnya menemukan dunia yang selama ini kucari,

aku ingin pulang kepada ayah dan ibudan berkata:

“Lihat, anak perempuan pertama kalian akhirnya menemukan jalannya sendiri.”

Related posts:

The Cure

Oleh: Khalilah Azalia Mumtazah Kuakui, aku datang kepadamu sebagai pecahan kaca.Dengan kepala yang dipenuhi ragu dan hati yang terbiasa luka,aku

Line Without a Hook

Oleh: Tamara Syabani Ahmad Barangkali kehilangan tidak selalu datang sebagai sesuatu yang terputus. Kadang, ia menyerupai dua garis yang setelah

Belenggu Ketakutan

Oleh: Muhammad Supardi Aku pernah bertanya kepada malam, akankah langkah ini sampai pada tujuan, atau harapan hanya akan tinggal seperti

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini