Oleh: Naufal Athalla Jabal
Di kota yang tak pernah benar-benar terlelap,
aku menunggu mu disini, menitipkan langkah pada jalanan panjang. Lampu-lampu malam menjadi saksi bahwa ada hati yang sedang berjuang pulang.
Lagu ini menjadi kesayanganku, ingatkah saat kau mengenalkan lagu ini padaku?
Jakarta menyimpan ribuan cerita tentangmu,
janji kita untuk setia di sore itu dan kau pun selalu janjikan untuk menungguku datang.
Jika suatu saat lelah mendatangi pintu hati mu, aku akan mengetuk pintu itu dengan perlahan dan menghusir semua lelah.
Jangan biarkan badai itu membuat kita lenyap,
semua harapan yang kita bangun jangan sampai sirna.
Simpan saja sedikit keyakinan
bahwa semua jarak ini punya ujung.
Nyamannya kecup dan hangatnya tawa mu membuatku berlabuh di kota itu, membawa semua mimpi dan ambisi untuk kembali padamu.
Meski mungkin terlambat oleh waktu dan tertahan oleh mimpi yang belum selesai, begitu juga jalan hidup yang memaksaku berputar lebih jauh.
Namun percayalah,
setiap langkah yang kuambil selalu mencari arah tempat kamu menunggu.
Maka tetaplah di sana,
di antara riuh kota dan sunyi malam, jangan pindah dari tempat
di mana harapan kita pernah bertemu.
Dan ketika akhirnya aku tiba, biarkan jakarta menjadi saksi bahwa rindu tidak pernah sia-sia.
Bahwa seseorang sedang berjalan jauh hanya untuk menepati janji sederhana.
Kota ini masih sama, lampunya masih menyala,
jalannya masih ramai.
Tapi satu hal yang berubah,
penantian kita selesai.
Karena kamu tetap di sana,
dan aku akhirnya pulang.
Tunggu aku…
di Jakarta.


