Oleh: Nur Muhammad Ikram
Dulu, aku adalah pengelana di antara sisa-sisa malam,
mencari arti di balik sunyi yang teramat dalam.
Tak ada peta yang kubawa, selain rindu yang hampir beku,
menanti titik terang yang mampu meredam gelisahku.
Tak ada aba-aba, kau datang meretas segala jarak,
menghentikan badai yang dulu membuat duniaku retak.
seluruh tanya yang kucari di gelap malam kini terjawab,
pada satu wajah yang membuat seluruh logikaku lesap.
Seluruh angkuhku tak berdaya oleh senyum sederhana,
bahkan bumi pun lupa cara berotasi ketika senyummu berseri.
dimatamu, kutemukan semesta yang lebih tenang dari pagi,
sebuah pelabuhan terakhir, bagi hati yang lelah berlari.
Maka biarkan aku menetap diteduh tatapmu,
melipat jarak yang pernah membuatku jemu.
sebab kini, pencarianku telah sampai pada usai,
di pelukanmu, segala resah akhirnya melantai.


