web analytics
header

Antara Aku, Kamu, dan Samudra

Oleh: Khalilah Azalia M.

Aku bertemu dengannya di bulan April, seperti berdiri di tepi laut yang tenang,

tidak bergelombang, tidak juga menjanjikan apa-apa.

Awalnya aku kira ini aman.

Kita berjalan pelan,

seperti air yang hanya menyentuh kaki, hangat, tidak dalam.

Kupikir dangkalnya menenteramkan. Tanpa sadar, aku sudah terlalu jauh,

dan ia berubah menjadi Samudra yang tidak bisa aku baca.

Ia mulai diam,

seperti laut yang tiba-tiba kehilangan suara,

dan aku tetap menunggu,

meski tahu ombaknya tidak lagi datang.

Aku pernah memilih pergi,

menarik diri dari dalamnya,

meski setengah hatiku masih tenggelam.

Namun yang paling sakit bukan perpisahan,

tapi saat ia menghilang,

seperti laut yang menelan segalanya tanpa jejak.

Lalu ia kembali,

seperti ombak yang datang lagi ke pantai,

membawa maaf, membawa harapan,

dan aku, lagi-lagi, membiarkan diriku hanyut.

Sekarang kita masih di sini,

di antara tenang dan dalam yang tidak pasti.

Lukanya belum reda, seperti air asin yang tak pernah benar-benar hilang.

Aku tetap bertahan,

bukan karena aku kuat berenang,

tapi karena aku belum siap,

kehilangan laut yang selalu kupanggil rumah.

Related posts:

Perempuan di awal Maret

Oleh: Fathir Triananda Junas Wahai gadis bulan maret,Sungguh banyak yang membuatku teringat akan dirimu.Tenggelamnya matahari, dinginnya pasang laut.Entah mengapa benang

Barangkali Kita Hanya Belum Sampai

Oleh: Khalilah Azalia M “Selingkuh, Ayah, Nak. Jangan mau sama laki-laki seperti ayahmu.”Kalimat itu diucapkan Ibu di sampingku, setelah semuanya

Runtuh

Oleh : Suci Rahmawati Rusli Barangkali,aku hanya terlalu lama bertahan. Menyimpan sesak di balik senyum,mengubur lelah di balik kata “aku

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini