web analytics
header

Barangkali Kita Hanya Belum Sampai

Oleh: Khalilah Azalia M

“Selingkuh, Ayah, Nak. Jangan mau sama laki-laki seperti ayahmu.”
Kalimat itu diucapkan Ibu di sampingku, setelah semuanya selesai antara dia dan Ayah. Tidak ada tangisan saat itu. Hanya suara yang datar, tapi justru terasa lebih menyakitkan. Dari situlah aku mulai menanamkan satu hal dalam diriku, aku tidak akan pernah dekat, apalagi menjalin hubungan, dengan laki-laki seperti Ayahku.

April 2025.

Malam itu aku hanya sedang rebahan, memainkan ponselku, membuka aplikasi chat berwarna biru yang sering kugunakan saat bosan. Karena gabut, aku mencoba sebuah bot yang katanya bisa mempertemukan orang dengan “jodohnya”. kedengarannya klise, tapi saat itu aku hanya ingin mengisi waktu.

Dan dari situlah aku bertemu dia, Muta. Seorang laki-laki dari pulau yang bahkan tidak pernah aku kunjungi. Jauh. Sangat jauh. Namun percakapan kami terasa dekat.

Satu bulan kami saling mengenal. Satu bulan yang kalau dipikir sekarang, sebenarnya terlalu singkat untuk memahami seseorang. Tapi saat itu, rasanya cukup. Cukup untuk membuatku percaya, cukup untuk membuatku yakin.

Dan akhirnya kami berpacaran.

Di awal, aku merasa tenang. Aku pikir, dia bukan laki-laki seperti Ayahku. Dia pernah menjadi korban perselingkuhan, keluarganya terlihat hangat, teman-temannya banyak, dan dia dikelilingi orang-orang yang mendukungnya dalam hal apapun. Aku percaya, seseorang yang pernah disakiti tidak akan menyakiti dengan cara yang sama.

Ternyata, aku salah dalam satu hal, cara seseorang mencintai tidak selalu sama dengan luka yang pernah ia rasakan.

Di awal hubungan, semuanya terasa ringan. Kami sama-sama bersemangat, saling mencari, saling menunggu. Tapi perlahan, tanpa aku sadari sejak kapan, semuanya berubah.

Chat kami tidak lagi panjang. Tidak ada lagi cerita-cerita kecil. Tidak ada lagi “selamat pagi” atau “jangan lupa makan”. Yang tersisa hanya percakapan singkat, seperlunya, seperti kewajiban yang harus diselesaikan.

Sampai suatu hari, aku bertanya,
“Kok kamu nggak pernah ngabarin aku?” Aku menunggu. Menatap layar. Berharap ada jawaban yang bisa menenangkan.

Tapi tidak ada.

Dan yang lebih menyakitkan dari tidak dijawab adalah dia tidak pernah merasa perlu untuk menjawab.

Hari demi hari terasa sama. Aku berbicara, tapi seperti tidak pernah benar-benar didengar. Dia ada, tapi rasanya jauh. Sangat jauh.

Lima bulan berlalu.

Hubungan kami masih ada, tapi rasanya kosong. Tidak ada kata sayang, tidak ada perhatian, tidak ada validasi. Aku memberi semuanya, tapi tidak pernah benar-benar menerima. Kadang aku bertanya-tanya, kita ini masih bersama atau hanya saling terbiasa? Percakapan kita terasa seperti kewajiban, bukan lagi keinginan. Aku berbicara, tapi seperti tidak pernah benar-benar didengar. Dia ada, tapi rasanya jauh dan dia tidak pernah sadar akan hal itu.

Aku mencoba memahami. Berkali-kali. Mencari alasan di setiap sikapnya yang berubah-ubah, di setiap diam yang dia pilih daripada menjelaskan. Tapi semakin aku berusaha mengerti, semakin aku merasa kehilangan diriku sendiri.

Pada akhirnya, aku mengucapkan kalimat yang tidak pernah aku sangka untuk mengucapkannya,

“Ayo putus.”

Aku menatap layar setelah mengirim pesan itu. Menunggu. Satu jam. Dua jam. Sehari. Tidak ada balasan.

Hari kedua, aku masih mengecek ponselku, berharap ada notifikasi darinya. Masih tidak ada.

Hari ketiga, aku mulai terbiasa dengan sepi. Dan di hari itu juga, akhirnya dia membalas.

“Ca, aku minta maaf. Aku nggak mau putus. Aku salah. Aku nggak bisa tanpa kamu. Hidup aku sepi kalau nggak ada kamu.”

Aku membaca kalimat itu berulang kali. Kalimat yang terdengar tulus, tapi juga terasa seperti sesuatu yang pernah aku dengar sebelumnya, bukan dari dia, tapi dari banyak cerita orang lain.

Aku tidak tahu itu penyesalan, atau hanya ketakutan kehilangan. Tapi tetap saja, aku membalas.

Kami akhirnya telfonan malam itu. Suaranya terdengar penuh penolakan, penuh usaha untuk mempertahankan. Aku mendengarkan, menjawab seperlunya. Tapi di dalam diriku, semuanya sudah berbeda. Dia tidak terima. Tapi aku sudah tidak bisa lagi.

Hari-hari setelah itu aku isi dengan berbagai hal. Bermain dengan teman-teman, melakukan hal-hal yang kusuka, bahkan mengalihkan diri dengan hal-hal kecil seperti bermain game. Aku mencoba terlihat baik-baik saja, aku berpikir bahwa aku pasti bisa menjalani hari-hariku tanpa kehadirannya.

Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang tidak berubah, aku tetap merasa kosong. Mungkin karena jauh di dalam diriku, aku adalah seorang anak perempuan yang tidak pernah benar-benar mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.

Dan di tengah semua usaha untuk terlihat baik-baik saja itu, aku kembali ke pola yang sama. Aku membalas pesannya lagi. Mengangkat teleponnya lagi. Kembali menjalani rutinitas yang sama seperti sebelumnya.

Sebulan berlalu. Dan aku menerima ajakannya untuk kembali.

“Aku janji bakal berubah dan nggak akan kayak gitu lagi,” katanya.

Aku tahu aku seharusnya ragu. Tapi aku memilih percaya.

Di awal, semuanya terasa lebih baik. Aku mulai berharap lagi. Tapi perlahan, satu per satu, hal-hal kecil yang dulu menyakitiku mulai kembali. Cara dia bersikap, cara dia memperlakukanku. Semua terasa seperti deja vu yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan di titik itu aku sadar, setiap kali aku mulai mempercayainya lagi, di saat yang sama aku juga mulai kehilangan diriku sendiri. Aku yang dulu punya batas, berubah jadi seseorang yang terus memaklumi. Terus bertahan. Bahkan ketika hatiku sudah tidak baik-baik saja.

Tapi kali ini, aku tidak pergi. Aku tetap di sini. Aku dan dia sama-sama berusaha. Dia bukan laki-laki yang jahat. Dia tidak selingkuh, tidak mempermainkan perempuan. Tapi ternyata, bukan hanya pengkhianatan besar yang bisa menghancurkan seseorang. Tapi terkadang, justru luka-luka kecil yang terus diabaikan yang perlahan mengikis semuanya.

Kami semakin sering bertengkar.

Tapi tetap bertahan.

Entah karena cinta, atau hanya karena takut kehilangan. Di setiap pertengkaran, dia dengan mudah mengatakan untuk mengakhiri semuanya. Sementara aku, selalu menjadi orang yang memohon agar tidak ditinggalkan. Aku menurunkan ego, menahan sakit, dan tetap bertahan. Seakan-akan aku berjuang sendirian untuk sesuatu yang seharusnya dijaga oleh dua orang.

Waktu terus berjalan. Dan anehnya, kami masih di sini. Perlahan, aku mulai memahami bahwa di balik semua itu, kami sama-sama saling membutuhkan. Tidak ada yang lebih besar, tidak ada yang lebih kecil. Cinta kami ada di titik yang sama, hanya cara kami menjaganya yang berbeda.

Satu tahun dua bulan.

Bukan waktu yang singkat untuk hubungan jarak jauh yang penuh rindu, salah paham, dan emosi yang tidak selalu bisa dikendalikan. Dia masih menjadi laki-laki yang sulit kupahami, “laki-laki bingung” dengan cara mencinta yang membuatku sering merasa sendirian, bahkan saat masih bersamanya.

Dan mungkin, itu tidak akan pernah benar-benar berubah. Tapi aku tetap di sini. Bukan karena aku tidak tahu rasanya lelah.

Tapi karena aku masih percaya bahwa di balik semua kebingungannya, ada perasaan yang sama besar denganku. Hanya saja, ia tidak tau mengungkapkannya dengan cara yang bisa aku pahami.

Perlu diingat bahwa cerita ini hanya dari sudut pandangku. Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di pikirannya. Apa yang dia rasakan saat memilih diam. Atau alasan di balik sikapnya yang sering terasa dingin.

Mungkin ada luka yang tidak pernah ia ceritakan. Atau mungkin, cara mencintanya memang berbeda dari yang aku harapkan.

Selama ini, aku bukan satu-satunya yang berjuang. Hanya saja, kami berjuang dengan cara yang tidak pernah saling bertemu.

Mungkin bagi sebagian orang, bertahan di hubungan seperti ini terdengar melelahkan. Memang iya. Tetapi, di antara semua lelah itu, masih ada rasa yang membuat kami ingin tetap pulang ke satu sama lain.

Cerita ini belum selesai. Kami masih berpacaran, sampai detik ketika cerita ini diunggah.

Tidak ada penutup yang benar-benar bisa aku tulis hari ini, karena pada kenyataannya aku dan dia masih berjalan di halaman yang sama. Masih saling menggenggam, meski kadang dengan cara yang berbeda. Masih bertahan, meski sering kali dengan luka yang tidak selalu terlihat.

Tapi untuk sekarang, kami tidak sedang mencari akhir. Kami hanya sedang berusaha. Berusaha menjadi lebih baik, meskipun pelan. Berusaha memahami, meskipun tidak selalu berhasil. Dan yang paling penting, berusaha untuk tetap tinggal, tidak bukan karena terpaksa, tapi karena masih sama-sama ingin. Cerita ini mungkin belum sampai pada akhirnya. Tapi untuk saat ini, kami memilih satu hal yang sama, yaitu untuk tidak menyerah.

Related posts:

Runtuh

Oleh : Suci Rahmawati Rusli Barangkali,aku hanya terlalu lama bertahan. Menyimpan sesak di balik senyum,mengubur lelah di balik kata “aku

Antara Aku, Kamu, dan Samudra

Oleh: Khalilah Azalia M. Aku bertemu dengannya di bulan April, seperti berdiri di tepi laut yang tenang, tidak bergelombang, tidak

Gelisah yang Tak Bertuan

Oleh: Muhammad Supardi Ia pernah menanam harapdi halaman hati yang bukan miliknya,menyiramnya dengan kata-kata manis,meneduh di bawah bayang janjiyang ia

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini