web analytics
header

Belenggu Ketakutan

Oleh: Muhammad Supardi

Aku pernah bertanya kepada malam,

akankah langkah ini sampai pada tujuan,

atau harapan hanya akan tinggal

seperti bayang-bayang di ujung jalan—

terlihat, tetapi tak pernah benar-benar tergenggam?

Selama ini aku berjalan dengan wajah yang tegar,

seolah dunia menunggu sebuah pembuktian.

Harus menjadi seseorang agar layak dipandang,

harus gemilang agar jejakku dikenang,

harus memiliki cahaya agar keberadaanku tak hilang.

Maka aku terus berlari,

mengejar cahaya yang tak pernah benar-benar diam.

Satu puncak terlewati,

puncak lain menjulang di kejauhan,

dan aku lupa kapan terakhir kali berjalan tanpa mengejar.

Barangkali yang paling kutakuti bukanlah kegagalan,

melainkan sunyi yang datang setelahnya—

ketika riuh perlahan reda,

ketika gema tentang kita luruh bersama waktu,

ketika tak ada lagi yang menoleh pada jalan yang telah kutempuh.

Seberapa jauh kita harus melangkah

agar akhirnya dianggap cukup?

Berapa banyak luka harus disembunyikan

agar senyum tampak seperti kemenangan,

ketika tak seorang pun tahu panjangnya jalan yang dilalui?

Di tengah riuh yang tak pernah selesai,

suaraku perlahan larut menjadi senyap.

Cahaya yang dahulu kukejar

tak lagi mampu menerangi ruang di dalam diri.

Dan untuk sesaat aku bertanya—

jika tak ada yang menoleh, ke mana harus kucari makna?

Pertanyaan itu tinggal lama di dalam dada,

menjadi gema yang enggan menemukan ujungnya.

Hingga perlahan kusadari,

tidak semua langkah membutuhkan riuh untuk berarti,

dan tidak semua perjalanan harus meninggalkan sorak.

Mungkin aku terlalu lama menjadikan dunia sebagai cermin,

mencari wajahku di mata yang datang dan pergi,

mengukur diri dari gema yang sebentar menyala.

Padahal ada langkah yang tetap memiliki arah,

meski jejaknya perlahan dihapus waktu.

Mungkin ketakutan memang tidak selalu datang untuk membelenggu.

Barangkali ia hanya ingin mengajarkan

bahwa aku tak harus selalu sampai untuk terus berjalan,

tak harus selalu terlihat untuk tetap ada—

dan untuk pertama kalinya, aku melangkah meski tak ada yang menoleh.

Related posts:

Sang Pemenang Meraih Mimpinya

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku pernah begitu percaya pada mimpi,mengejarnya dengan seluruh keberanian,hingga lupa bahwa hidup tak selalu membawaku pada tujuan

Bukan Aku yang Dipilih

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku sungguh mencintaimu dengan cara yang mungkin tak pernah kau minta.Menyimpan namamu,di antara doa-doa yang tak pernah

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini