Oleh: Naura Azalea Ilham
“I have a horrible feeling that I’m a greedy, perverted, selfish, apathetic, cynical, depraved, morally bankrupt woman who can’t even call herself a feminist.”
Larik pengakuan itu bergema bagai cambukan yang ia telanjangi sendiri di hadapan cermin. Di balik kebiasaannya melontarkan lelucon gelap dan kecanduan akan validasi fisik yang kerap menghiasi hari-harinya, Fleabag bukan sekadar perempuan yang berjalan tanpa arah di sudut kota London. Ia adalah perwujudan manusia yang paling jujur dan tak sungkan memperlihatkan sisi terburuk dari dirinya. Hal ini membuat Fleabag menjadi karakter yang sulit untuk disukai, bahkan bagi penontonnya sendiri.
Ada beban psikologis yang begitu menyesakkan ketika seorang perempuan dipaksa hidup di bawah norma sosial yang sangat kaku. Dunia sering kali mengharapkan perempuan untuk terus rasional dan tampil tanpa cela. Namun, Fleabag hadir untuk menentang pandangan itu. Ia rapuh, kerap mengambil keputusan yang keliru, serta dikuasai hasrat yang dianggap kotor. Ketika ia mencemooh dirinya sendiri sebagai perempuan yang gagal menjadi seorang feminis, tersimpan kepedihan yang meluap menjadi rasa muak yang mendalam terhadap dirinya sendiri karna merasa tak pernah melakukan hal yang benar, bahkan sekalipun, selama ia hidup. Setiap detik dalam kehidupannya seolah dijalani dengan terus memilih jalan yang salah, yang makin mempertegas bahwa hidupnya tak lebih dari serangkaian keputusan buruk yang meremukkan dirinya sendiri.
Padahal, segala kekacuan yang ia perbuat berpangkal pada satu hal: duka yang tak tahu harus ia apakan. Di hari pemakaman sang Ibu, ketika ia ditelanjangi oleh duka untuk pertama kalinya, Fleabag membuka dirinya dengan sebuah pengakuan: “I don’t know what to do with it. With all the love I have for her. I don’t know where to put it now.”
Kalimat itu adalah cerminan paling murni dari kebingungan seorang anak yang kehilangan poros dunianya. Tidak hanya berduka karena kematian, Fleabag juga kehilangan arah karena sekujur tubuhnya dipenuhi oleh rasa cinta yang tiba-tiba kehilangan rumah. Cinta yang begitu besar itu mendadak mengambang, tanpa tujuan, dan menjelma menjadi beban yang menyesakkan dada.
Belum sempat ia berdamai dengan kekosongan yang rasakan setelah kehilangan Ibunya. Boo, sahabat sejati yang sempat menjadi tempatnya menampung rindu sang Ibu, malah berakhir dalam tragedi yang menyisakan rasa bersalah teramat pekat. Cinta dan rindu yang kembali kehilangan tempatnya itu akhirnya mengendap, meracuni perlahan, dan berbalik menuntut balas pada dirinya sendiri.
Untuk meredam perih yang membakar, Fleabag memilih jalan pertahanan diri yang paling menyiksa: menghukum dirinya sendiri. Mengutuk diri sebagai sosok yang rusak dan gagal terasa jauh lebih aman ketimbang harus berdiri telanjang mengakui betapa rapuhnya ia di hadapan kehilangan. Ia melemparkan caci maki paling tajam ke mukanya sendiri, berharap jika ia telah menobatkan dirinya sebagai orang yang paling tercela, kepergian orang-orang kelak tak akan lagi sanggup meremukkan hatinya.
Hanya saja pertahanan itu runtuh di sebuah momen yang hening. Sang ayah, yang sepanjang cerita tampak canggung dan berjarak, tiba-tiba melihat menembus topeng yang ia kenakan begitu saja.
“I think you know how to love better than any of us, that’s why you find it all so painful.”
Dengan begitu saja, perkataan sang ayah berhasil membasuh kebencian yang ia pendam bertahun-tahun. Sang ayah seolah memvalidasi seluruh eksistensinya dengan menganggap bahwa segala kekacauan yang ia perbuat, duka dan luka yang ia lalui bukanlah bukti dari kebangkrutan moral. Semua itu hanyalah harga mahal dari seorang manusia yang memilih untuk hidup secara utuh. Sebuah keberanian luar biasa untuk merasakan tiap jengkal emosi hingga ke batas terdalamnya.
Walaupun interaksi dengan sang ayah berhasil meredamkan kebencian yang ia tampung selama ini, tapi masih saja tidak menghapus seluruh luka yang ia peroleh akibat kehilangan. Sang ayah hanya memberinya sesuatu yang selama ini tak pernah sanggup ia berikan kepada dirinya sendiri: kemungkinan untuk percaya bahwa dirinya tidak sepenuhnya rusak. Bahwa ia boleh menjadi perempuan yang kacau, egois, penuh kontradiksi, tetapi tetap layak untuk dicintai. Barangkali, untuk pertama kalinya, Fleabag tidak perlu lagi membuktikan betapa buruknya dirinya demi meyakinkan dunia bahwa ia pantas menerima segala hal buruk yang menimpanya.
Perlahan, kemungkinan itu menemukan bentuknya dalam hubungan Fleabag dengan sang Pastor. Di hadapan laki-laki itu, untuk pertama kalinya, ia berhadapan dengan seseorang yang benar-benar melihat dirinya. Ia menemukan keintiman yang selama ini dicari melalui tubuh, lelucon, dan perhatian sesaat.
Ketika takdir hubungan itu harus berakhir dengan pengakuan cintanya dibalas dengan “It’ll pass”, Fleabag kembali dihadapkan pada kehilangan. Bedanya, kali ini ia tidak lagi berusaha mengubah kepergian seseorang menjadi alasan untuk membenci dirinya sendiri. Ia membiarkan dirinya terluka, sekalipun ia tahu tak ada jaminan bahwa luka itu akan segera sembuh.
Di sinilah akhir Fleabag menjadi begitu menyayat sekaligus membebaskan. Sepanjang dua musim, serial ini menggunakan konsep breaking the fourth wall, sebuah teknik penceritaan yang memungkinkan Fleabag menembus batas antara dunia fiksi dan penonton dengan berbicara langsung kepada kamera. Ia kerap melontarkan komentar sinis, membagikan pikirannya yang paling pribadi, atau sekadar mencari tatapan penonton ketika kenyataan di hadapannya terasa terlalu menyakitkan. Kita seolah ditempatkan sebagai orang kepercayaan yang mengetahui rahasia-rahasianya, bahkan ketika orang-orang terdekatnya sendiri gagal memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
Akan tetapi, pada penghujung cerita, Fleabag akhirnya melakukan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia lakukan sebelumnya: ia memilih untuk tidak lagi membawa kita bersamanya.
Adegan tersebut terasa seperti sebuah perpisahan yang diam-diam telah dipersiapkan sejak awal. Kamera yang dahulu menjadi tempat Fleabag melarikan diri dari kenyataan kini justru menjadi sesuatu yang harus ia tinggalkan agar dapat kembali hidup di dalamnya.
Dan barangkali, itulah akhir yang paling manusiawi bagi seorang perempuan yang sepanjang hidupnya merasa dirinya terlalu rusak untuk dicintai. Ia tidak menjadi seseorang yang sempurna. Ia hanya berhenti menjadikan dirinya sendiri sebagai tontonan dan mulai berani menjalani hidupnya disertai dengan segala ketidaksempurnaan yang masih melekat padanya.


