web analytics
header

Rasa yang Tak Bernama

Sumber: Pinterest

Oleh: Tamara Syabani Ahmad

Ada masa ketika hening tak berarti apa-apa selain jeda. Kau dan aku hanya dua nama yang berdampingan sebagai teman, ringan, tanpa beban, tanpa kata yang menuntut kepastian. Kita berjalan sejajar tanpa pernah berpikir untuk menoleh terlalu jauh ke arah lain. Namun perlahan, bisik-bisik di sekitar tumbuh seperti rumput liar, tak jelas kapan muncul, tetapi terasa menggelitik. Seolah mereka melihat bunga yang mulai merekah jauh sebelum kita menyadari kelopak rasanya sendiri. Sesuatu bergerak di antara kita, diam, tetapi tak lagi kosong.

Perlakuan yang dulu terasa biasa kini menjadi seperti matahari sore yang jatuh pelan di kulit. Namamu, yang dulu kupanggil sembarangan, kini terdengar lirih di bibirku, seakan ia lahir untuk menenangkan. Perhatian-perhatian kecil darimu menyala seperti lentera yang diam-diam menerangi sudut batinku yang pernah remang. Tawa kita tak lagi terdengar sama. Ia bergetar, seperti detak yang menahan diri agar tidak terdengar lebih keras dari yang seharusnya. Keakraban menjadi selimut yang menyembunyikan denyut perasaan yang masih malu menyebut dirinya apa.

Bayangan tentang kebersamaan kita menetap, enggan pergi. Ia menggema di dasar ingatan, menari seperti cahaya yang menolak padam. Waktu berjalan, namun kenangan seolah menanam akar di sanubari. Lalu, pertanyaan tumbuh tanpa suara, apakah ini sekedar persahabatan yang tumbuh terlalu manis? Ataukah benih perasaan yang sedang menunggu keberanian untuk diakui?

Di antara rindu yang enggan muncul ke permukaan dan kenyataan yang berdiri tegak tanpa belas kasihan, harapan tampak bimbang. Keraguan, sebaliknya, ia melangkah ringan seolah tak punya apa-apa untuk dipertaruhkan.

Dan mungkin, dalam sunyi yang tak menemukan namanya, ada satu hati yang jatuh sendirian. Diam, tetapi jatuh sepenuhnya.

Related posts:

Antara Aku, Kamu, dan Samudra

Oleh: Khalilah Azalia M. Aku bertemu dengannya di bulan April, seperti berdiri di tepi laut yang tenang, tidak bergelombang, tidak

Gelisah yang Tak Bertuan

Oleh: Muhammad Supardi Ia pernah menanam harapdi halaman hati yang bukan miliknya,menyiramnya dengan kata-kata manis,meneduh di bawah bayang janjiyang ia

Montauk

Oleh: Juwa Ampas kopi kau dan aku! Ah, aku menemukan cara baru untuk mengutuk rasa. Aku tak dapat menahan buncah

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini