Oleh : El
Pandanaran, Semarang
29 Oktober 2022
Bagaimana jika mimpimu terwujud separuh? Ya, separuh.
Menolehlah ke sana, pada perempuan manis yang tengah membubuhkan tandatangan berulang kali, matanya tak melirik pada kertas, toh ia sudah ahli dalam hal ini, matanya terpusat pada silih wajah di depannya, menyapa dan melempar senyum pada kawanan pembacanya. Banner persergi berdiri di sudut panggung, tertulis ‘Jumpa Penulis: Novel Saudade Cetak Ulang Kedua’
Itu mimpiku.
Tapi Perempuan itu bukan aku.
Ada aku berdiri di sudut belakang ruangan. Bersenandung kecil “Biarlah aku dikutuk dan engkau yang dirayakan…”
Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan, pemandu menutup acara, Nami–Sang Bintang turun dari panggung, ia melambai padaku.
“Enggak pakai sesi QnA?” tanyaku pada Nami yang semakin dekat.
Yang dilempar tanya tersenyum konyol, kepalanya mendekat sebelum napasnya berembus di telingaku.
“Ya gimana mau jawabnya kalau penulis bukunya lo.”
Ya, begitulah hidup yang ku lakoni setahun terakhir. Melirik aku pada setumpukan buku di sisi kanan, buku yang berisi jiwaku tapi tertulis dengan namanya. Oh, jangan memandang buruk pada Nami! Sungguh dia penyelamatku.
Aku dan Nami sekelas sejak jadi mahasiswa baru. Nami–gadis ceria dan ramah. Ia mengenal dan dikenal banyak orang. Nami menulis sejak sekolah menengah. Akun wattpadnya dibanjiri pengikut, lima dari tujuh tulisannya sudah nangkring di rak gramedia. Tulisannya seputar cerita teenlit yang digemari anak sekolah.
Satu waktu ketika aku berkunjung ke rumah dan masuk ke kamarnya, aku mengerti, gadis itu hidup berkecukupan, macbook, belum lagi ipad dua buah yang diletakkan sembarangan di bawah meja. Nami tidak menulis untuk uang. Beda lagi denganku. Sejak awal aku menulis di wattpad dan aplikasi lainnya, aku sudah menaruh harap akan menghasilkan pundi dari sana. Tapi pembacaku selalu berhenti di angka seribu, mungkin karena aku tak tahu promosi, mungkin karena aku tak bermain TikTok, dan segala alasan lain yang kubuat sebab sisi lain dari otakku masih berpikir bahwa tulisanku jauh lebih baik dibanding tulisan Nami.
Maka begitu saja ku kuburkan mimpi itu. Tak ada waktu, aku lebih baik menyelesaikan kuliahku, mendapat gelar sarjana pendidikan lalu pulang ke Kebumen dan menjadi guru matematika supaya bisa dipanggil Bu Guru Bestari–sebagaimana harapan Ibu.
Tapi lagi dan lagi, roda kehidupan selalu mampu mepermainkan orang melarat sepertiku. Pandemi itu merampas banyak. Merampas nyawa Bapak, merampas pekerjaan Ibu. Lalu aku tiba di hantaman paling keras saat Ibu bilang tak bisa lagi mengirim biaya spp. Sekonyong-konyong aku mencari pekerjaan, batas pembayaran spp sisa seminggu. Lalu aku yang kehilangan akal, menghubungi Nami, sebut saja aku tak tahu diri, mencoba meminjam uang dari teman yang bahkan tak begitu tahu seluk-beluk sata sama lain, mungkin aku tahu sedikit tentang Nami, tapi Nami tak tahu apapun tentangku. Pertemanan kita hanya seputar Nami, ia senang membicarakan dirinya, dan aku pun tak punya apapun tentangku yang layak diceritakan.
Lalu seperti yang sudah-sudah, orang beruang selalu mudah jadi pahlawan. Aku melunasi spp dengan uang pinjaman Nami. Sebagai orang yang memiliki hutang, masalah kita tidak pernah berhenti, hanya berganti. Kini aku memikirkan cara melunasi hutang pada Nami. Lalu satu hari membawaku pada celutukan sembarangan Nami, perempuan itu dengan yupi di mulutnya berbicara.
“Gimana kalau tulisan kamu upload di akunku Tar? Iya, jadi pakai namaku aja, siapa tahu naik, kan? Terus ada yang lirik, diterbitin, semua royalty kamu yang ambil. Kami bisa deh lunasin hutangmu–” Nami berhenti sebentar, melepeh yupi dan mengambil yang baru. “Eh tapi ini aku enggak minta kamu buru-buru bayar hutang ya, aku mah santai aja, cuma aku capek liat kamu setor muka lusuh mulu tiap habis telfonan sama Ibumu. Aku yang pengen cerita juga bingung karena vibesnya enggak asik duluan. Tapi terserah kamu aja sih, Ak–”
“Aku mau.”
Aku tidak memikirkan apapun lagi selain cara mendapatkan uang. Ibu bahkan sudah menangis dalam sambungan telfon, membujuk anak sulungnya itu untuk berhenti kuliah sebab sudah tak mampu mengirim uang bahkan untuk makan. Satu-satunya corong ekonomi kami adalah mesin jahit Ibu yang paling-paling meraup 10 ribu hingga 30 ribu sehari.
Lalu roda kehidupanku berhenti di atas sana. Buku itu dipinang, tak sulit sebenarnya, Nami sudah punya nama juga penggemar, meski genrenya cukup jauh berbeda, tapi mereka senang sebab Nami mencoba genre baru, beberapa penggemar baru bahkan datang pada Nami, lalu sudah sembilan bulan terakhir, aku mengikuti Nami ke event-event penulis, mengambil peran sebagai asistennya.
Aku tak masalah dengan buku bertuliskan namanya itu. Toh, uang mengalir masuk ke rekeningku. Tak begitu banyak sebenarnya, apa yang diharapkan dari negara dengan minat baca rendah, harga buku mahal, pajak penulis, dan tentu saja–para pengedar buku bajakan. Tapi setidaknya, aku tak lagi menggantung hidup pada Ibu di kampung.
Ya, tak ada masalah. Sampai pada satu Rabu ketika Nami datang memperkenalkan seorang pria dengan senyum dan semburat di pipinya.
“Tari! Ini pria yang aku ceritakan, pembaca yang sekarang jadi pacarku!”
Rabu itu, bencana tumpah di depan mataku.
Pria itu mengulurkan tangan yang ku terima tak lebih dari sedetik. Pria itu membuka mulut lantas telingaku menyambut namanya.
“Jeff…”
Begitu saja, jiwaku sekonyongnya dilempar ke masa lalu.
Mata itu. Mata yang masih sama seperti tiga tahun lalu. Tapi kenapa seperti sudah tidak ada aku di dalamnya? Kenapa seolah hanya aku yang diseret angin masa lalu? Untuk apa ia menyebut nama memperkenalkan diri–aku tak mungkin lupa, dan dia seharusnya tidak perlu melempar tanya, “siapa tadi namamu?”
Oh Tuhan, kesadaran itu mengambil alih, sepertinya aku sedikit paham. Sudah tidak ada lagi jejakku di dunianya. Tapi bagaimana bisa?
Lewat percakapanku dengan Nami aku tahu, Jeff kecelakaan tunggal tiga tahun lalu. Saat kami baru lulus sekolah. Saat ia pulang ke rumah kakeknya di Kudus. Saat kami bertengkar perihal pilihan universitas di sambungan telepon. Setengah mati aku membenci pria itu, membenci bagaimana ia menghilang begitu saja setelah pertengkaran kami.
Lalu hari ini kami kembali bertemu. Harus ku sebut apa kami ini? Mantan? Aku tak ingat salah satu dari kita mengucap putus kala itu.
Lalu harus ku apakan ingatan tentang kita? Ku lupakan? Masalahnya kepala bukan ponsel tempatku menaruh folder berisi foto-foto kita yang bisa dan memang sudah ku musnahkan lewat sekali klik. Masalahnya, soal kenangan, tak bisa lupa dan musnah betulan. Masalahnya tidak ada pria lain setelah dengannya.
Ya, aku berakhir di dia. Berputar-putar di dia.
Meski tak ku cari,—sebab egoku bilang harusnya dia yang kembali bukan aku yang mencari— diam-diam aku masih menyimpannya di depan pintu hati, menghalangi orang-orang yang ingin masuk.
Ah, sial! Ku putar lagu itu.
perjalanan takdir dan kenangan
Ku putar kembali. Berkali-kali.
Sampai hilang juga ingatanku.
Sampai redah hujan di mataku.
sampai kita dihapus waktu.
***
“Tar, ayolah, sudah lama aku enggak ke Karimunjawa. Jangan banyak alasan lagi. Aku tahu kamu enggak ada kelas sampai lusa.”
Memang tidak ada. Pun soal rapat, bertemu dosen, project kelompok. Semua itu tak lebih dari bualan dan alasan. Aku menghindari Nami. Masalahnya bertemu Nami berarti bertemu Jeff. Mereka sudah jadi satu. Dan aku tidak suka itu. Aku tidak tahu bagian mana yang tidak ku suka, apakah bagian bertemu Jeff, atau bagian Nami dan Jeff jadi satu?
“Ini jangan-jangan karena hutang kamu sudah lunas jadi enggak mau temenin aku lagi? Kalau beneran gitu, kamu jahat sih Tar…”
“Enggak, bukan be—ah…” Aku menghela napas berat. Aku lagi yang jahat. “Oke, aku ikut.”
Begitulah aku berpartisipasi dalam melukai diri.
Lalu adegan selanjutnya aku sudah di Pulau Karimunjawa. Sekali lagi, menolehlah ke depan sana. Pada Jeff yang menggandeng tangan Nami mesra. Sedang aku di belakang.
Sekali lagi, seseorang memainkan mimpiku.
Sekali lagi, aku bersenandung “Biarlah aku dikutuk dan engkau yang dirayakan…”
Kulihat Nami melepaskan genggamannya pada Jeff, membiarkan pria itu menggelar tikar anyaman yang tadi mereka sewa. Ketika pria itu sudah selesai, Nami tampak berbicara, lalu Jeff menggeleng seraya tersenyum. Dan Nami sudah berlarian seorang diri di bibir pantai, merekam diri dan ombak bergantian.
Jeff berpaling mencariku. Lalu matanya singgah di mataku.
Kau curang Jeff. Kau biarkan aku menanggung sendiri kenangan itu. Kenapa Tuhan tidak membuat kita berdua lupa? Kenapa hanya kau saja? Padahal aku tak semampu itu menanggung sendiri.
Ia melambai, “sini Tar…”
Genggamanku pada tali tas rotan yang tersampir di bahu semakin erat. Yang kuinjak hanya pasir pantai biasa, bukan pasir isap, tapi kakiku terasa sulit sekali diangkat. Bukan kakiku, tapi hatiku yang berat.
“Tari…”
Lalu aku melawan dan memaksa diri. Berjalan aku padanya. Supaya ia berhenti memanggilku. Supaya aku tidak gila setiap ia menyebut namaku.
Dan entah di detik keberapa, aku sudah duduk di sebelahnya.
Kau tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kau rindukan dengan sangat sudah ada tepat di sampingmu. Tapi saat itu tiba, menggenggam tangannya ku tak mampu. Ia sungguh sudah di depan pelupuk, tapi masih saja tak bisa ku peluk. Jangankan menggenggam atau memeluk, mengungkapkan kerinduan itu saja aku tampak latah. Seolah rinduku tak diberi ruang untuk tumpah.
Kami mencoba berbincang. Topiknya? Hanya dua: Nami dan Buku, hanya itu topik yang kami berdua pahami. Lalu aku tiba-tiba ingin tahu pendapatnya soal buku Nami. Buku asli Nami.
Tapi kudapati Jeff malah membeo.
“Rain siapa?”
“Tokoh di novel IT Couple.”
“Ha?”
“Buku punya Nami.” Aku memperjelas.
“Oh, aku enggak tahu.”
“Bukannya kamu baca semua buku Nami? Itu kan yang buat kamu tertarik sama dia? From reader, ran, then a boyfriend?”
“Enggak semua, saya cuma baca Saudade saja.”
Darahku terasa mengalir lebih cepat.
Aku menelan ludah lalu bertanya lagi. “Kenapa enggak baca buku Nami yang lain?”
“Bukan nggak baca. Sudah dicoba, tapi sepertinya bukan selera saya. Mungkin salah saya karena buku pertama yang saya baca langsung buku pamungkasnya ya. Tapi karena enggak bisa membaca bukunya yang lain, saya memilih membaca buku Saudade sampai puluhan kali. Jadi saya tetap terhitung fan, kan?”
Aku memaku.
Rentetan ‘seandainya’ menghantam dinding pikiranku.
Seandainya dia tahu aku yang menulisnya.
Seandainya dia tahu bagaimana buku itu banyak bercerita tentang kita
Seandainya dulu aku tidak berhenti mencarinya
Seandainya…
Seand—
“Saya enggak enak sama dia, jadi saya bilang semua bukunya sudah saya baca. Jangan diadukan ya, nanti saya yang bilang sendiri.”
Kebohongan kecil. Sudut bibir Tari terangkat menyadari—selain memori—pria itu tak banyak berubah. Masih senang berbohong kecil agar orang lain merasa senang.
“Kenapa judulnya Saudade, ya?” kini dia mengambil giliran bertanya dahulu.
Lalu seringan kapas aku menjawab.
“Selain karena maknanya, juga karena ditulis pas aku lagi dengar lagu Saudadenya Kunto Aji”
“Ha?”
Aku berkedip beberapa kali, menyadari sesuatu. “Maksudku Nami! Nami pernah bilang dia menulis buku itu sambil dengar lagu Saudade.”
Jeff gagal menahan senyum, ia menunduk.
“Kenapa?” tanyaku penasaran, pria itu masih saja manis jika sedang malu.
“Enggak… Cuma…” Jeff menoleh, mematri tatap pada mata hitamku. Senyumnya masih di sana. Lalu ia melanjutkan, “pas baca buku itu, saya replay Saudade berulang kali…”
Sebagaimana Jeff menjeda kalimatnya, aku pun tengah memikirkan cara menjeda waktu. Agar bisa kunikmati senyum itu lebih lama. Senyum yang ku rindukan. Butuh tiga tahun lebih, hari ini senyum itu kembali padaku, dengan sama indahnya.
Jeff mengalihkan pandangannya ke depan, pada Nami yang masih merekam diri dengan riang di bibir Pantai. Masih betah dengan senyum, pria itu melanjutkan, “senang saja tahu Nami juga mendengarkan lagu itu sambil tulis buku ini.”
Aku menggigit pipi dalam. Menyadari bibir itu tidak melengkung untukku. Senyum itu tidak kembali. Senyum itu tidak datang padaku, tapi pada Nami, pada perempuan barunya.
Oh, apa aku betulan tidak punya celah sama sekali?
“Amnesia kamu permanen?” tanyaku mencoba menggali celah.
“Nggak, tapi dokter bilang kemungkinan bisa baliknya juga susah. Saya pernah terapi, tapi nggak sanggup, kepala saya selalu berasa mau pecah, terlalu penuh.”
Lalu aku tidak bersuara lagi.
Tari berhenti di sana.
Jeff yang melihat Tari seperti tak ingin diajak bicara lagi akhirnya merogoh ponsel, pria itu lantas meletakkan ponselnya di antara ia dan Tari. Tak butuh waktu lama, ponsel itu memuntahkan nada, mengirim perasaan aneh yang membingungkan dan sayangnya— Jeff sudah bosan merasa bingung, amnesia itu betulan hampir merampas kewarasannya.
Kau pernah tiba-tiba melupakan sesuatu yang ingin sekali kau ingat? Bingung itu membuat linglung. begitulah Jeff menjalani hidup. Ia sudah muak dilanda badai memori. Maka ketika kali ini kebingungan itu kembali menyeruak lewat situasi aneh yang terasa antara ia dan Tari—Jeff lebih memilih berdiri, memutuskan abai pada kebingungan itu. ia tidak mau repot-repot bertempur di badai memorinya. Kalaupun Tari benar adalah seseorang di memori itu, maka seharusnya perempuan itu bilang. Maka kemungkinan perasaan aneh itu hanya perasaan Jeff saja. Tak berarti apapun.
Mata Jeff tertuju pada satu yang pasti di depan sana. Ia tersenyum pada gadis yang melambai di depannya, yang berjalan ke arahnya, yang menarik lengannya.
“Tadi kamu janji loh mau buat video tiktok bareng aku.”
“Tapi jangan joget-joget ya.”
Sedang Tari tidak mendengar apapun lagi selain suara musik dari ponsel di sampingnya serta suara tawa pasangan kekasih di depannya.
Oh di sana berdirilah engkau, dengan senyuman dan keping harapan
Tari berpikir rindu ini akan berangsur redah setelah berjumpa pemliknya. Tapi kali ini Tari bisa menebak akhir adegan: rindu itu gagal redah, ia malah semakin membuncah. Sebab dia yang sirindu sudah terikat dan Tari tak punya barang sedikitpun celah.
Berantakan. semuanya berantakan. Padahal perempuan itu hanya ingin menyudahi rindu. Tapi kini ia terpaksa pulang tanpa pandu. Ditenteng kembali bakul rindunya yang tak jadi diserahkan. tumpah ruah isi bakul itu. selain rindu, bertambah pula perasaan baru, sepotong pilu.
Tari bangkit dari duduknya.
Berjalan ia menjauh, dibelakangi matahari yang perlahan lenyap dibalik garis laut. Tari jadi ingin tahu: Apakah matahari juga lupa pernah menoreh warna pada langit sebelum dilahap laut? Apakah matahari lupa ciuman pertamanya kepada langit manakala sibuk bermesra dengan laut?
Lalu si matahari dan si laut itu kembali bergandengan. Mereka selesai bermesra. Berjalan menuju si langit. Sayang, sudah tidak ada langit di sana.
“Tari mana?”
Nami mengherdikan bahu.
“Ini lagu apa?” tanya Nami sibuk memperbaiki bandananya yang terasa longgar.
Tangan Jeff yang melipat karpet mematung di udara.
“Apa tadi kamu bilang?”
“Aku tanya lagunya, aku kayak pernah dengar.”
Jeff berdiri, lalu tenggelam dalam diam.
Menggulung arus pikiran yang berserakan. Mengurainya. Menyatukannya.
Lalu seperkiandetik kemudian menarik lengan Nami, menghentak perempuan itu menghadapnya. Mata Nami menyipit tak mengerti.
“Saudade, novel itu…” Jeff singgah sebentar, membasahi bibir yang kering diterpa angin laut.
“… benar kamu yang menulisnya, kan?”
sedetik…
dua detik…
lima detik….
tujuh detik dan kekosongan masih mengisi mereka.
Tak ada jawaban, hanya suara lembut Kunto Aji yang masih bersenandung dari ponsel yang menjawab Jeff.
Di belakang tempatmu bersandar, tanganku terbuka, kapanpun kau ingat pulang…


