web analytics
header

Kronik Orang-Orang Biasa

Oleh: Naura Azalea Ilham

Bukan puisi, sebab terlalu kasar, bukan juga cerpen karna kenyataannya terlalu panjang.
Apalagi fiksi, sebab semua nyata terjadi, dan hingga hari ini, masih diberi panggung untuk terulang kembali.

Tak heran bagi orang yang melangkahi konstitusi untuk duduk di tahta tertinggi kemudian berakhir melanggar konstitusi itu sendiri.

Toh, yang berkuasa tak ‘kan dihukum, kan? Sebagaimana frasa tajam ke bawah tumpul ke atas yang tak pernah usang untuk kelakuanmu yang layaknya binatang.

Untunglah, negeri ini tak pernah kehabisan cara menyajikan masa depan di atas nampan. Satu piring untuk harapan, seribu janji sebagai pelengkap. Tak apa jika meja lain masih kosong, yang penting tampak tersaji.
Soal siapa yang masih kelaparan, itu urusan nanti.

Di belantara, api kembali berpesta, asap mengepul, tanggung jawab entah ke mana. Entah siapa yang membakar, entah siapa yang membiarkan. Yang jelas, selalu kembali terlalap. Semua pandai memberi penjelasan. Walau nadi tinggal sepenggal: aman saja, katanya.

Dua tahun, empat warna, duh, gaduhnya sungguh merana. Kelompok rentan kau jadikan senjata ‘tuk ricuhkan suasana, setan pun terpana melihat hebatmu merayu fana.

Barangkali yang terganti hanya warna, sebab lakonnya tetap sama: yang berubah cuma cara berdusta, bukan watak di balik kuasa.

Kalau dibawa serius, yah… intropeksi dan hilangkan, kelakuan burukmu bukan orangnya.

Kalau tidak, sudah biasa, memangnya kapan kita tak disuruh ‘tuk terbiasa?

Related posts:

Lelana

Oleh: Tamara Syabani Ahmad Tatkala hujan luruh dari langit yang muram, semesta seolah merapal titah dalam bahasa yang tak terjamah

Aku Anak Pertama, “Perempuan”

Oleh: Rodiah Nurhafizah Aku anak pertama,“perempuan.” Lahir sebagai anak yang pertama kali mengenalkan ayah dan ibu pada arti menjadi orang

Penghitung Pengunjung Responsif

Total Pengunjung

...

Kunjungan Unik Hari Ini